Tampilkan postingan dengan label Kejarkom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kejarkom. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Mei 2012

Task 6 - Keamanan Jaringan dan VPN


Konsep Keamanan Jaringan

Keamanan jaringan sebagai bagian dari sebuah sistem informasi adalah sangat penting untuk menjaga validitas dan integritas data serta menjamin keterrsediaan layanan begi penggunanya. Sistem harus dilindungi dari segala macam serangan dan usaha-usaha penyusupan atau pemindaian oleh pihak yang tidak berhak.
Komputer yang terhubung ke jaringan mengalami ancaman keamanan yang lebih besar daripada host yang tidak terhubung kemana-mana. Dengan mengendalikan network security, resiko tersebut dapat dikurangi. Namun network security biasanya bertentangan dengan network acces, karena bila network acces semakin mudah, network security makin rawan. Bila network security makin baik, network acces semakin tidak nyaman. Suatu jaringan didesain sebagai komunikasi data highway dengan tujuan meningkatkan akses ke sistem komputer, sementara keamanan didesain untuk mengontrol akses. Penyediaan network security adalah sebagai aksi penyeimbang antara open acces dengan security.
Prinsif Keamanan Jaringan
Prinsif keamanan jaringan dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu :
a.       Kerahasiaan (secrecy)
Secrecy berhubungan dengan hak akses untuk membaca data atau informasi dan suatu sistem computer. Dalam hal ini suatu sistem komputer dapat dikatakan aman jika suatu data atau informasi hanya dapat dibaca oleh pihak yang telah diberi hak atau wewenang secara legal.
b.      Integritas (integrity)
Integrity berhubungan dengan hak akses untuk mengubah data atau informasi dari suatu sistem computer. Dalam hal ini suatu sistem komputer dapat dikatakan aman jika suatu data atau informasi hanya dapat diubah oleh pihak yang telah diberi hak.
c.       Ketersediaan (availability)
Availability berhubungan dengan ketersediaan data atau informasi pada saat yang dibutuhkan. Dalam hal ini suatu sistem komputer dapat dikatakan aman jika suatu data atau informasi yang terdapat pada sistem komputer dapat diakses dan dimanfaatkan oleh pihak yang berhak.
d.      Authentication
Aspek ini berhubungan dengan metoda untuk menyatakan bahwa informasi betul-betul asli, orang yang mengakses atau memberikan informasi adalah betul-betul orang yang dimaksud, atau server yang kita hubungi adalah betul-betul server yang asli.
Untuk membuktikan keaslian dokumen dapat dilakukan dengan teknologi watermarking dan digital signature. Sedangkan untuk menguji keaslian orang atau server yang dimaksud bisa dilakukan dengan menggunakan password, biometric (ciri-ciri khas orang), dan sejenisnya. Ada tiga hal yang dapat ditanyakan kepada orang untuk menguji siapa dia :
* What you have (misalnya kartu identitas ~KTP,SIM,dll~)
* What you know (misalnya PIN atau password)
* What you are (misalnya sidik jari, biometric, Captcha)

e.       Aspek Kontrol
Aspek kontrol merupakan fitur-fitur keamanan yang mengontrol bagaimana user dan sistem berkomunikasi dan berinteraksi dengan system dan sumberdaya yang lainnya. Akses kontrol melindungi sistem dan sumberdaya dari akses yang tidak berhak dan umumnya menentukan tingkat otorisasi setelah prosedur otentikasi berhasil dilengkapi.
Kontrol akses adalah sebuah term luas yang mencakup beberapa tipe mekanisme berbeda yang menjalankan fitur kontrol akses pada sistem komputer, jaringan, dan informasi. Kontrol akses sangatlah penting karena menjadi satu dari garis pertahanan pertama yang digunakan untuk menghadang akses yang tidak berhak ke dalam sistem dan sumberdaya jaringan.
f.       Non-Repudiation
Aspek ini menjaga agar seseorang tidak dapat menyangkal telah melakukan sebuah transaksi. Penggunaan digital signature, certificates, dan teknologi kriptografi secara umum dapat menjaga aspek ini. Akan tetapi hal ini masih harus didukung oleh hukum sehingga status dari digital signature itu jelas legal.

Jenis Serangan Terhadap Keamanan Jaringan
Pada dasrnya, menurut jenisnya, serangan terhadap suatu data dalam suatu jaringan dapat
dikategorikan menajdi 2, yaitu:
1.   Serangan Pasif
    Merupakan serangan pada sistem autentikasi yang tidak menyisipkan data pada aliran data, tetapi hanya mengamati atau memonitor pengiriman informasi ke tujuan. Informasi ini dapat digunakan di lain waktu oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Serangan pasif yang mengambil suatu unit data kemudian menggunakannya untuk memasuki sesi autentikassi dengan berpura-pura menjadi user yangg autentik / asli disebut dengan replay attack. Beberapa informasi autentikasi seperti password atau data biometric yang dikirim melalui transmisi elektronik dapat direkam dan kemudian digunakan untuk memalsukann data yang sebenarnya. Serangan pasif inni sulit dideteksi kareena penyerang tidak melakukan perubahan data. Oleh sebab itu untuk mengatasi serangan pasif ini lebih ditekankan pada pencegahan daripada pendeteksiannya.
2.   Serangan Aktif
    Merupakan serangan yang mencoba memodifikasi data, mencoba mendapatkan autentikasi, atau mendapatkan autentikasi dengan mengirimkan paket-paket data yang salah ke dalam data stream atau dengan memodifikassi paket-paket yang melewati data stream. Kebalikan dari serangan pasif, serangan aktif sulit untuk dicegah karena untuk melakukannya dibutuhkan perlindungan fisik untuk semua fasilitass komunikassi dan jalur-jalurnya setiap saat. Yang dapat dilakukan adalah mendeteksi dan memulihkan keadaan yang disebabkan oleh serangan ini.
Bentuk-bentuk Ancaman :
1.   Memaksa masuk dan kamus password
Jenis ancaman keamanan jaringan ini lebih umum disebut sebagai Brute Force and Dictionary, serangan ini adalah upaya masuk ke dalam jaringan dengan menyerang database password atau menyerang login prompt yang sedang active. Serangan masuk paksa ini adalah suatu upaya untuk menemukan password dari account user dengan cara yang sistematis mencoba berbagai kombinasi angka, huruf, atau symbol. Sementara serangan dengan menggunakan metoda kamus password adalah upaya menemukan password dengan mencoba berbagai kemungkinan password yang biasa dipakai user secara umum dengan menggunakan daftar atau kamus password yang sudah di-definisikan sebelumnya.

Untuk mengatasi serangan keamanan jaringan dari jenis ini anda seharusnya mempunyai suatu policy tentang pemakaian password yang kuat diantaranya untuk tidak memakai password yang dekat dengan kita missal nama, nama anak, tanggal lahir dan sebagainya. Semakin panjang suatu password dan kombinasinya semakin sulit untuk diketemukan. Akan tetapi dengan waktu yang cukup, semua password dapat diketemukan dengan metoda brute force ini.
2.   Denial of Services (DoS)
     Deniel of Services (DoS) ini adalah salah satu ancaman keamanan jaringan yang membuat suatu layanan jaringan jadi mampet, serangan yang membuat jaringan anda tidak bisa diakses atau serangan yang membuat system anda tidak bisa memproses atau merespon terhadap traffic yang legitimasi atau permintaan layanan terhadap object dan resource jaringan. Bentuk umum dari serangan Denial of Services ini adalah dengan cara mengirim paket data dalam jumlah yang sangat bersar terhadap suatu server dimana server tersebut tidak bisa memproses semuanya. Bentuk lain dari serangan keamanan jaringan Denial of Services ini adalah memanfaatkan telah diketahuinya celah yang rentan dari suatu operating system, layanan-2, atau applikasi-2. Exploitasi terhadap celah atau titik lemah system ini bisa sering menyebabkan system crash atau pemakaian 100% CPU.

Tidak semua Denial of Services ini adalah merupakan akibat dari serangan keamanan jaringan. Error dalam coding suatu program bisa saja mengakibatkan kondisi yang disebut DoS ini. Disamping itu ada beberapa jenis DoS seperti:
a.       Distributed Denial of Services (DDoS), terjadi saat penyerang berhasil meng-kompromi beberapa layanan system dan menggunakannya atau memanfaatkannya sebagai pusat untuk menyebarkan serangan terhadap korban lain.
b.      Ancaman keamanan jaringan Distributed refelective deniel of service (DRDoS) memanfaatkan operasi normal dari layanan Internet, seperti protocol-2 update DNS dan router. DRDoS ini menyerang fungsi dengan mengirim update, sesi, dalam jumlah yang sangat besar kepada berbagai macam layanan server atau router dengan menggunakan address spoofing kepada target korban.
c.       Serangan keamanan jaringan dengan membanjiri sinyal SYN kepada system yang menggunakan protocol TCP/IP dengan melakukan inisiasi sesi komunikasi. Seperti kita ketahui, sebuah client mengirim paket SYN kepada server, server akan merespon dengan paket SYN/ACK kepada client tadi, kemudian client tadi merespon balik juga dengan paket ACK kepada server. Ini proses terbentuknya sesi komunikasi yang disebut Three-Way handshake yang dipakai untuk transfer data sampai sesi tersebut berakhir. Kebanjiran SYN terjadi ketika melimpahnya paket SYN dikirim ke server, tetapi si pengirim tidak pernah membalas dengan paket akhir ACK.
d.      Serangan keamanan jaringan dalam bentuk Smurf Attack terjadi ketika sebuah server digunakan untuk membanjiri korban dengan data sampah yang tidak berguna. Server atau jaringan yang dipakai menghasilkan response paket yang banyak seperti ICMP ECHO paket atau UDP paket dari satu paket yang dikirim. Serangan yang umum adalah dengan jalan mengirimkan broadcast kepada segmen jaringan sehingga semua node dalam jaringan akan menerima paket broadcast ini, sehingga setiap node akan merespon balik dengan satu atau lebih paket respon.
e.       Serangan keamanan jaringan Ping of Death, adalah serangan ping yang oversize. Dengan menggunakan tool khusus, si penyerang dapat mengirimkan paket ping oversized yang banyak sekali kepada korbannya. Dalam banyak kasus system yang diserang mencoba memproses data tersebut, error terjadi yang menyebabkan system crash, freeze atau reboot. Ping of Death ini tak lebih dari semacam serangan Buffer overflow akan tetapi karena system yang diserang sering jadi down, maka disebut DoS attack.
f.       Stream Attack terjadi saat banyak jumlah paket yang besar dikirim menuju ke port pada system korban menggunakan sumber nomor yang random.
3.   Spoofing
    Spoofing adalah seni untuk menjelma menjadi sesuatu yang lain. Spoofing attack terdiri dari IP address dan node source atau tujuan yang asli atau yang valid diganti dengan IP address atau node source atau tujuan yang lain.
4.   Serangan Man-in-the-middle
    Serangan keamanan jaringan Man-in-the-middle (serangan pembajakan) terjadi saat user perusak dapat memposisikan diantara dua titik link komunikasi.
    * Dengan jalan mengkopy atau menyusup traffic antara dua party, hal ini pada dasarnya merupakan serangan penyusup.
    * Para penyerang memposisikan dirinya dalam garis komunikasi dimana dia bertindak sebagai proxy atau mekanisme store-and-forwad (simpan dan lepaskan).
Para penyerang ini tidak tampak pada kedua sisi link komunikasi ini dan bisa mengubah isi dan arah traffic. Dengan cara ini para penyerang bisa menangkap logon credensial atau data sensitive ataupun mampu mengubah isi pesan dari kedua titik komunikasi ini.
5.   Spamming
    Spam yang umum dijabarkan sebagai email yang tak diundang ini, newsgroup, atau pesan diskusi forum. Spam bisa merupakan iklan dari vendor atau bisa berisi kuda Trojan. Spam pada umumnya bukan merupakan serangan keamanan jaringan akan tetapi hampir mirip DoS.
6.   Sniffer
    Suatu serangan keamanan jaringan dalam bentuk Sniffer (atau dikenal sebagai snooping attack) merupakan kegiatan user perusak yang ingin mendapatkan informasi tentang jaringan atau traffic lewat jaringan tersebut. suatu Sniffer sering merupakan program penangkap paket yang bisa menduplikasikan isi paket yang lewat media jaringan kedalam file. Serangan Sniffer sering difokuskan pada koneksi awal antara client dan server untuk mendapatkan logon credensial, kunci rahasia, password dan lainnya.
7.   Crackers
    Ancaman keamanan jaringan Crackers adalah user perusak yang bermaksud menyerang suatu system atau seseorang. Cracker bisasanya termotivasi oleh ego, power, atau ingin mendapatkan pengakuan. Akibat dari kegiatan hacker bisa berupa pencurian (data, ide, dll), disable system, kompromi keamanan, opini negative public, kehilangan pasar saham, mengurangi keuntungan, dan kehilangan produktifitas.

Konsep VPN

VPN (Virtual Private Network) adalah suatu jaringan komunikasi yang dimiliki secara pribadi oleh suatu perusahaan/organisasi yang masih menggunakan medium internet untuk menghubungkan antara suatu lokasi ke lokasi yang lain secara aman.

Bagaimana VPN bekerja?
Untuk komunikasi yang cepat selalunya VPN akan menggunakan ‘dedicated leased line’ dalam rangkainnya antar lokasi. Konsep kerja VPN hampir sama dengan konsep jaringan lainnya, yang membedakan hanyalah ia digunakan untuk/pada kalangan tertentu saja (private).
sebagai contoh perusahaan A memiliki beberapa cabang tersebar di beberapa propinsi di Indonesia, dan pihak manajemen ingin semua lokasi cabang terhubung dengan menggunakan jaringan komunikasi yang sama, cepat, dan aman untuk memudahkan perhubungan bisnis/kerjanya. Jadi, hanya staf-staf A saja yang bisa menggunakan jaringan VPN yang telah didaftarkan tersebut, dan hanya bisa pada lokasi-lokasi yang telah ditentukan saja (berdasarkan IP).

Fungsi dan Manfaat VPN
Teknologi VPN memiliki tiga fungsi utama, di antaranya adalah :
a.       Confidentially (Kerahasiaan)
Teknologi VPN merupakan teknologi yang memanfaatkan jaringan publik yang tentunya sangat rawan terhadap pencurian data. Untuk itu, VPN menggunakan metode enkripsi untuk mengacak data yang lewat. Dengan adanya teknologi enkripsi itu, keamanan data menjadi lebih terjamin. Walaupun ada pihak yang dapat menyadap data yang melewati internet bahkan jalur VPN itu sendiri, namun belum tentu dapat membaca data tersebut, karena data tersebut telah teracak. Jadi, confidentially ini dimaksudkan agar informasi yang ditransmisikan hanya boleh diakses oleh sekelompok pengguna yang berhak.
b.      Data Integrity (Keutuhan Data)
Ketika melewati jaringan internet, sebenarnya data telah berjalan sangat jauh melintasi berbagai negara. Pada saat perjalanan tersebut, berbagai gangguan dapat terjadi terhadap isinya, baik hilang, rusak, ataupun dimanipulasi oleh orang yang tidak seharusnya. Pada VPN terdapat teknologi yang dapat menjaga keutuhan data mulai dari data dikirim hingga data sampai di tempat tujuan.
c.       Origin Authentication (Autentikasi Sumber)
Teknologi VPN memiliki kemampuan untuk melakukan autentikasi terhadap sumber-sumber pengirim data yang akan diterimanya. VPN akan melakukan pemeriksaan terhadap semua data yang masuk dan mengambil informasi dari sumber datanya. Kemudian, alamat sumber data tersebut akan disetujui apabila proses autentikasinya berhasil. Dengan demikian, VPN menjamin semua data yang dikirim dan diterima berasal dari sumber yang seharusnya. Tidak ada data yang dipalsukan atau dikirim oleh pihak-pihak lain.

MANFAAT
VPN pada dasarnya adalah menambahkan perlindungan dan keamanan untuk semua aktivitas online Anda, segala sesuatu yang Anda lakukan pada komputer Anda yang menggunakan Internet.
Sebuah VPN (virtual private network) menciptakan sebuah "terowongan" yang sangat aman yang tidak dapat dicegat dengan cara apapun. Sebuah VPN melindungi Anda dengan menyembunyikan alamat IP tujuan Anda dengan satu anonim sebagai gantinya.
Selain itu, siapapun termasuk penjahat bisa memonitor tindakan online Anda ketika Anda menggunakan koneksi nirkabel di hotspot WiFi publik seperti di kampus atau kafe. Sebuah VPN anonim akan menjaga semua lalu lintas dari dan ke komputer Anda dengan enkripsi.Data dienkripsi sekarang benar-benar berguna bagi siapa saja karena tidak dapat diuraikan oleh cracker.

Contoh Implementasi VPN
Contoh implementasi VPN adalah :
-          Implementasi VPN pada Shorewall dengan metode GRE dan IPIP tunnels.

Senin, 07 Mei 2012

Task 5 - Dynamic Router OSPF

Tentukan IP address dan Range IP address serta konfigure router diatas menggunakan Dynamic OSPF.

DOWNLOAD FILE >>> DISINI

Rabu, 02 Mei 2012

Task 4 - Static Route

Menentukan IP address dan Range IP address, serta configure Router menggunakan Static Route.

File Cisco nya dapat di DOWNLOAD ===> DISINI

Sabtu, 28 April 2012

Task 3

Menentukan IP address dan Range IP address serta VLAN dan juga port Trunk pada topologi network.

DOWNLOAD FILE  ----> disini

Selasa, 13 Maret 2012

Core Layer, Distribution Layer, dan Access Layer

Core Layer
Merupakan layer terluar. Device yang digunakan pada layer ini sebaiknya device yang mampu menerima data dalam jumlah besar dan dapat mengirim data dengan cepat. pada bagian Inti terdapat interkoneksi utama atau akses utama dari network dan yang akan mengoptimalkan transport antar sites. Bisa berupa perangkat Switching di Layer 2 atau Layer 3 yang tugas pokonya sebagai interkoneksi semua sumber daya. Contohnya perangakt Switching Layer 3 yang bertugas forward dan routing semua paket masuk dan keluar network, fungsi firewall dan sistem keamanan lainnya juga bisa di implementasikan di Hirarki Core ini. Tujuan lapisan inti adalah untuk mempercepat lalu
lintas jaringan sebanyak mungkin. Lalu lintas pada lapisan inti adalah umum bagi sebagian besar pengguna dan data pengguna diangkut ke lapisan distribusi yang meneruskan permintaan jika diperlukan. Jika lapisan inti dipengaruhi oleh kegagalan, setiap pengguna terpengaruh pada jaringan. toleransi kegagalan adalah hal utama yang perlu dipertimbangkan pada lapisan ini. Tanggung jawab utama lapisan inti adalah untuk melihat lalu lintas yang padat, sehingga kecepatan dan masalah lalu lintas prihatin pada lapisan ini.

Distribution Layer
Device yang digunakan pada layer ini sebaiknya device yang mampu menetapkan policy terhadap jaringan dan mampu melakukan peyaringan/filter paket dan bertindak sebagai firewall. Router bisa ditempatkan pada distribusi layer ini. di bagian distribusi akan ditugaskan untuk mendistribusikan semua pengaturan di hirarki Core ke Access dan yang akan membuat kebijakan koneksi. Distribusi lebih ditekankan untuk mempermudah pengaturan dan menyebarkan resource yang ada di network sesuai dengan aturan yang telah dibuat. Peralatan pada hirarki ini biasanya berupa Switching di layer 2. Hal ini juga dikenal sebagai lapisan workgroup dan ini disebut komunikasi titik antara akses dan layer inti. Fungsi dasar lapisan distribusi routing, filtering dan akses WAN dan mengetahui metode yang dapat mengakses paket inti. Lapisan ini harus mencari tahu mekanisme tercepat untuk menangani operasi jaringan seperti bagaimana penanganan dan forwarding file ke server berdasarkan permintaan. Setelah menemukan jalan yang terbaik, distribusi permintaan lapisan maju menuju lapisan inti dan kemudian ke layanan yang tepat. Implementasi kebijakan dilakukan pada layer distribusi dan Anda bisa latihan fleksibilitas mendefinisikan operasi jaringan.
Perlu diketahui bahwa di lapisan Distribution Layer ini dapat ditanamkan,
- Filtering
- Firewall
- Captive Portal
- Queue

Access Layer
Merupakan layer yang terdekat dengan user. Sebaiknya device yang terpasang dapat berfungsi menghubungkan antar host dan dapat mengatur collision domain. di bagian inilah semua perangkat disebarkan dan di interkoneksikan ke semua end point sumber daya yang ada misalnya terminal user dan sebagainya. Peralatan bisa berupa router layer 3 atau switching layer 2. User dan workgroup akses ke jaringan dan sumber daya didefinisikan pada lapisan akses dan lapisan ini juga dikenal sebagai lapisan desktop.


Persamaan Core Layer, Distribution Layer, dan Access Layer
  1. Sama-sama berfungsi untuk memforward paket data.
  2. Merupakan model network yang digunakan untuk mendesain dan membangun network-network komunikasi data.
  3. Merupakan model yang menyederhanakan tugas membangun internetwork hierarki yang handal dan terukur.

Perbedaan Core Layer, Distribution Layer, dan Access Layer

Dilihat dari Tujuannya
  • Core Layer, hanya men-switch traffic secepat mungkin (dipengaruhi oleh kecepatan dan latency). 
  • Distribution Layer, mengontrol arus lalu lintas jaringan dengan pengawasan dan perencanaan broadcast domain.
  • Access Layer, menyediakan sarana untuk menghubungkan perangkat ke jaringan dan mengendalikan perangkat yang diijinkan untuk berkomunikasi pada jaringan.
Dilihat dari Sisi Penguhubungan
  • Core Layer, menghubungkan distribution layer dengan koneksi utama (internet).
  • Distribution Layer, menghubungkan antara core layer dengan access layer.
  • Access Layer, penghubung user dengan akses ke jaringan.
Dilihat dari Fungsinya
  • Core Layer, menyediakan transportasi yang optimal antara situs.
  • Distribution Layer, menyediakan konektivitas berbasis kebijakan.
  • Access Layer, menyediakan akses pengguna ke jaringan.
Dilihat dari Sisi Peroutingan
  • Core Layer, menggunakan routing protokol low convergence times.
  • Distribution Layer, routing antar VLAN.
  • Access Layer, konfigurasi statik routing.
Dilihat dari Paket Manipulation
  • Core Layer, manipulasi paket data (seperti: access list dan filtering) tidak boleh dilakukan, karena hal ini akan memperlambat proses pengiriman paket data (Switching Packet).
  • Distribution Layer, manipulasi paket data (packet manipulation) dapat dilakukan.
  • Access Layer, dapat menerapkan access lists atau filters untuk dapat mengoptimasi kinerja jaringan.

|| Sumber : http://www.scribd.com/doc/47360630/Laporan-Dedicated-Router-Nur-Annisa

Rabu, 07 Maret 2012

Classless Inter-Domain Routing (CIDR)

Classless Inter-Domain Routing (CIDR) adalah sebuah metodologi pengalokasian alamat IP dan routing paket Internet Protocol. Saat itu diperkenalkan pada tahun 1993 untuk menggantikan arsitektur menangani desain jaringan sebelum classful di Internet dengan tujuan untuk memperlambat pertumbuhan tabel routing pada router di Internet, dan membantu memperlambat kelelahan cepat alamat IPv4.
Notasi CIDR menggunakan sintaks yang menentukan alamat IP untuk IPv4 dan IPv6, menggunakan alamat dasar jaringan diikuti dengan sebuah garis miring dan ukuran prefix routing, misalnya, 192.168.0.0/16 (IPv4), dan 2001: db8:: / 32 (IPv6).
Untuk mengatasi kekurangan, Internet Engineering Task Force diterbitkan pada tahun 1993 yang baru standar, RFC 1518 dan RFC 1519, untuk mendefinisikan konsep baru dari alokasi blok alamat IP dan metode baru routing paket IPv4. Sebuah versi baru dari spesifikasi ini diterbitkan sebagai RFC 4632 pada tahun 2006.
Alamat IP dianggap sebagai terdiri dari dua bagian: mengidentifikasi jaringan-prefix diikuti oleh pengenal host dalam jaringan itu. Dalam arsitektur jaringan sebelum classful, alokasi alamat IP didasarkan pada oktet (segmen batas 8-bit) dari alamat IP 32-bit, memaksa baik 8, 16, atau prefiks jaringan 24-bit. Dengan demikian, alokasi terkecil dan blok routing hanya berisi alamat-256 terlalu kecil untuk sebagian besar perusahaan, dan blok yang lebih besar berikutnya berisi alamat-65.536 terlalu besar untuk digunakan secara efisien oleh bahkan organisasi besar. Hal ini menyebabkan inefisiensi dalam menggunakan alamat serta routing karena jumlah besar dialokasikan kecil (kelas-C) jaringan dengan pengumuman rute individu, yang terpisah secara geografis dengan sedikit kesempatan untuk agregasi rute, menciptakan permintaan alat berat pada routing.
Sebagai eksperimental TCP / IP jaringan diperluas ke internet selama tahun 1980-an, kebutuhan untuk skema pengalamatan yang lebih fleksibel menjadi semakin jelas. Hal ini menyebabkan perkembangan berturut-turut subnetting dan CIDR. Karena perbedaan kelas lama diabaikan, sistem baru itu disebut tanpa kelas routing. Hal ini didukung oleh protokol routing modern, seperti RIP-2, EIGRP, IS-IS dan OSPF. Hal ini menyebabkan sistem yang asli yang disebut, dengan back-formasi, routing classful.
CIDR mencakup :
o Teknik VLSM dengan kualitas efektif menetapkan prefiks sewenang-wenang-panjang. Alamat dalam notasi CIDR ditulis dengan akhiran yang menunjukkan jumlah bit pada awalan, seperti 192.168.0.0/16, di mana / 16 adalah akhiran, dan 192.168.0.0 adalah awalan.
o Agregasi dari prefiks beberapa bersebelahan ke supernets, dan, sedapat mungkin di Internet, agregat iklan, sehingga mengurangi jumlah entri pada tabel routing global. Agregasi menyembunyikan berbagai tingkat subnetting dari tabel routing internet, dan membalikkan proses subnetting dengan VLSM.
o Proses administrasi mengalokasikan blok alamat untuk organisasi berdasarkan pada kebutuhan aktual dan jangka pendek mereka diproyeksikan.

sumber :
http://www.scribd.com/doc/32305689/IP-Address

Variable-length Subnet Mask (VLSM)

VLSM adalah pengembangan mekanisme subneting, dimana dalam VLSM dilakukan peningkatan dari kelemahan subneting klasik, yang mana dalam clasik subneting, subnet zeroes, dan subnet- ones tidak bisa digunakan. selain itu, dalam subnet classic, lokasi nomor IP tidak efisien.
Jika proses subnetting yang menghasilkan beberapa subjaringan dengan jumlah host yang sama telah dilakukan, maka ada kemungkinan di dalam segmen-segmen jaringan tersebut memiliki alamat-alamat yang tidak digunakan atau membutuhkan lebih banyak alamat. Karena itulah, dalam kasus ini proses subnetting harus dilakukan berdasarkan segmen jaringan yang dibutuhkan oleh jumlah host terbanyak. Untuk memaksimalkan penggunaan ruangan alamat yang tetap, subnetting pun diaplikasikan secara rekursif untuk membentuk beberapa subjaringan dengan ukuran bervariasi, yang diturunkan dari network identifier yang sama.  
Classless Inter-Domain Routing didasarkan pada Variable-length Subnet Mask (VLSM) yang memungkinkan jaringan yang akan dibagi ke dalam subnet berukuran berbeda. Hal ini memungkinkan penggunaan yang efisien dari subnet dan menghindari membuang-buang alamat IP. subnet masker Variabel-panjang disebutkan di RFC 950 (1985).
Karena semua subnet diturunkan dari network identifier yang sama, jika subnet-subnet tersebut berurutan (kontigu subnet yang berada dalam network identifier yang sama yang dapat saling berhubungan satu sama lainnya), rute yang ditujukan ke subnet-subnet tersebut dapat diringkas dengan menyingkat network identifier yang asli.
Teknik variable-length subnetting harus dilakukan secara hati-hati sehingga subnet yang dibentuk pun unik, dan dengan menggunakan subnet mask tersebut dapat dibedakan dengan subnet lainnya, meski berada dalam network identifer asli yang sama. Kehati-hatian tersebut melibatkan analisis yang lebih terhadap segmen-segmen jaringan yang akan menentukan berapa banyak segmen yang akan dibuat dan berapa banyak jumlah host dalam setiap segmennya.
Dengan menggunakan variable-length subnetting, teknik subnetting dapat dilakukan secara rekursif: network identifier yang sebelumnya telah di-subnet-kan, di-subnet-kan kembali. Ketika melakukannya, bit-bit network identifier tersebut harus bersifat tetap dan subnetting pun dilakukan dengan mengambil sisa dari bit-bit host.
Tentu saja, teknik ini pun membutuhkan protokol routing baru. Protokol-protokol routing yang mendukung variable-length subnetting adalah Routing Information Protocol (RIP) versi 2 (RIPv2), Open Shortest Path First (OSPF), dan Border Gateway Protocol (BGP versi 4 (BGPv4). Protokol RIP versi 1 yang lama, tidak mendukungya, sehingga jika ada sebuah router yang hanya mendukung protokol tersebut, maka router tersebut tidak dapat melakukan routing terhadap subnet yang dibagi dengan menggunakan teknik variable-length subnet mask.
Perhitungan IP Address menggunakan metode VLSM adalah metode yang berbeda dengan memberikan suatu Network Address lebih dari satu subnet mask. Dalam penerapan IP Address menggunakan metode VLSM agar tetap dapat berkomunikasi kedalam jaringan internet sebaiknya pengelolaan networknya dapat memenuhi persyaratan :
  1. Routing protocol yang digunakan harus mampu membawa informasi mengenai notasi prefix untuk setiap rute broadcastnya (routing protocol : RIP, IGRP, EIGRP, OSPF dan lainnya, bahan bacaan lanjut protocol routing : CNAP 1-2),
2.   Semua perangkat router yang digunakan dalam jaringan harus  mendukung metode VLSM yang menggunakan algoritma penerus packet informasi.

sumber :
http://www.scribd.com/doc/32305689/IP-Address
http://thekiralover.wordpress.com/2010/04/19/vlsm/